• 23

    Nov

    Tradisi Bikin Kali Tak Bersih

    Cobalah sesekali menyusuri Kali Surabaya? Minggu ini, saya bersama Pak Walikota Bambang DH dan Danpasmar I Brigjen TNI (MAR) I Wayan Mendra sempat melakukannya. Saat itu memang sedang digelar gerakan Prokasih (Program Kali Bersih) yang dilakukan Pemerintah Kota Surabaya dengan Korp Marinir. Yang menjadi sasaran pembersihan adalah Kali Surabaya, mulai jembatan Karangpilang sampai rolak Gunungsari. Asyik juga menyusuri sungai di pagi hari. Meski hanya dengan perahu karet milik Marinir, perjalanan kurang lebih satu jam bolak-balik itu menghasilkan sebuah kesimpulan: kali bersih itu ternyata sangat terkait dengan tradisi. Lho? Betul, yakni sistem nilai masyarakat dalam memperlakukan sungai. Apakah sungai itu akan dijadikan sumber kehidupan atau sekadar suatu pemberian alam yang bisa dimanfa
  • 26

    Oct

    Pedestrian Lebar, Uugh.... Nikmatnya

    Panambahan ruas pedestrian di Jalan Raya Darmo Surabaya memicu protes para pengguna jalan. Mereka menyesalkan keputusan tersebut karena dianggap mempersempit hak kendaraan bermotor. Mereka khawatir, dengan sempitnya jalan, maka ruas jalan yang selama ini sudah padat itu akan makin macet di masa mendatang. Pembangunan sarana untuk pejalan kaki di salah satu jalan protokol tersebut memang memakan 60 sentimeter ruas jalan. Kelak, pedestrianya akan lebih lebar dibanding yang ada sekarang. Di beberapa tempat, juga dilakukan hal yang sama. Bahkan, di ujung bawah Embong Malang harus menabrak tembok cagar budaya. Untung, bangunan cagar budaya itu masuk klasifikasi C sehingga bisa dibongkar. Terus membangun sarana untuk mempernyaman pejalan kaki memang sudah menjadi kebijakan. Setiap tahun akan
  • 22

    Sep

    Petani Kota di Tengah Tanaman Beton

    Di kawasan Barat Surabaya yang sedang berkembang menjadi kota baru ada kampung Made. Memang agak aneh namanya. Berbau Bali. Ya, tempat itu memang dulu menjadi tempat tinggal pejuang yang berdarah Bali. Tradisi yang berkembang juga masih demikian. Mereka punya kegiatan yang disebut dengan sedekah bumi. Semua warga membawa sesajen berupa hasil bumi dan tumpeng ke tempat dekat waduk yang dianggap sebagai pepundennya. Disitulah mereka setiap tahun menggelar acara tersebut. Hampir semua buah-buahan dan hasil bumi ditata seperti tumpeng untuk kenduri orang Jawa. Semua warga berkumpul. Di hari yang sama, mereka juga saling silaturahmi ke rumah-rumah. Persis seperti kalau hari raya Idul Fitri berlangsung. Dengan berbagai ritual bersama, mereka mengharapkan rejeki tetap mengalir deras. Tentu reje
-

Author

Follow Me