Sambal Terong Gus Dur

2 Jan 2010

Kali ini saya ingin menulis tentang KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Presiden RI Keempat yang meninggal empat hari lalu itu memang manusia yang memiliki kelebihan dibandingkan dengan manusia pada umumnya. Karena itu, wajar kalau bangsa ini kehilangan putra terbaiknya. Selain ketokohannya dalam berbagai bidang, salah satu yang istimewa adalah soal daya ingat.

Saya punya cerita khusus soal ini. Pada tahun 1993, Gus Dur datang ke Blitar untuk menghadiri Haul Bung Karno. Setiap tahun di zaman pemerintahan Soeharto, ia memang selalu datang ke kota proklamator itu bersama Megawati Soekarnoputri. Biasanya Gus Dur selalu didampingi Emha Ainun Nadjib dan Eros Djarot. Juga selalu ikut mengawal saya (saat itu sebagai wartawan Jawa Pos), Budiono (kini Pimred Detikcom), Syaifullah Yusuf (kini Wagub Jatim), dan seniman yang juga wartawan Surabaya Mohammad Anis.

Kebetulan, orang tua saya pengagum fanatik Gus Dur. Karena itu, di sela-sela waktu senggang, cucu pendiri NU KH Hasyim Asy’ari itu saya ajak mampir ke rumah. Seperti kebiasaan seorang santri, ibu saya menyiapkan segalanya untuk menjamu kiai besar yang hendak berkunjung ke rumahnya. Salah satunya dengan memasakkan Gus Dur sambal terong yang memang menjadi keahliannya. Ternyata sambal terong itulah yang membuat Gus Dur terkenang.

Setelah Gus Dur terserang stroke pertama tahun 1996, saya pun berkunjung ke Ciganjur untuk menjenguknya. Begitu tahu saya yang datang, Gus Dur langsung nyeletuk menanyakan sambal terong bikinan ibu saya. ”Aduh Gus, ibu saya sudah meninggal dua tahun lalu,” kata saya spontan. Gus Dur pun lantas menimpali kata-kata ikut berduka dengan bergumam: Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.

Dalam batin saya sangat terkejut dengan pertanyaan sambl terong itu. Mengapa? Orang yang baru saja terserang stroke masih ingat dengan sesuatu yang amat kecil dan sangat pribadi sifatnya. Gus Dur ingat dengan suguhan seorang pengagumnya di desa pelosok Blitar yang tidak dia kenal sebelumnya. Dari kejadian itu, saya menjadi percaya bahwa Ketua Umum PBNU yang berhasil mengangkat kepercayaan diri kaum Nahdliyin di negeri ini hafal ribuan nomor telepon di luar kepala.

Kemampuan otak dan daya ingat Gus Dur ini memang menjadi salah satu legendanya. Seorang kiai di Kota Gede, Jogjakarta, pernah bercerita soal ini. Kebetulan ia juga pernah menjadi mahasiswa Universitas Baghdad, Irak, beberapa tahun, setelah Gus Dur menimba ilmu di perguruan tinggi tersebut. Kiai yang kini sudah almarhum itu bercerita bahwa hampir semua kitab di perpustakaan universitas yang ia baca, selalu ditemukakan catatan-catatan Gus Dur. Tampaknya, tokoh demokratisasi Indonesia itu punya kebiasaan untuk menuliskan komentarnya dalam setiap buku yang telah dibacanya.

Karena itu, wajar kalau Gus Dur punya kemampuan intelektual dan wawasan yang luar biasa. Ia menguasai berbagai bahasa secara baik. Juga selalu merespon berbabagai persoalan dengan logika dan basis ilmu yang sangat baik. Bahkan seringkali orang dibuat terheran-heran dengan kemampuannya merespon segala permasalahan. Sering diceritakan bahwa dalam setiap forum Gus Dur kelihatan tertidur. Namun, begitu giliran memberi jawaban, ia langsung bisa mengomentari permasalahan yang terlontar itu dengan benar. Saya pun sering mengalami hal itu ketika beberapa kali wawancara khusus dengannya.

Berbagai kelebihan itu tak juga hilang, meski ia sudah lebih dari empat kali kena serangan stroke. Sampai kemudian Allah yang mencipta Gus Dur mengambil jiwa, jasad dan raganya untuk selamanya. Kini, kita hanya bisa menikmati segala jasa dan tinggalan pemikiran yang telah diperbuatnya selama hidupnya. Mulai dari warisan besarnya di NU, di masyarakat, dan bangsa ini. Kematiannya pun seakan menunjukkan kepada kita betapa besar Gus Dur di mata semau orang. Tidak hanya untuk warga Nahdliyin dan umat Islam, tapi juga umat agama lain dan berbagai lapisan masyarakat.

Saya sempat merinding melihat penghormatan orang kepada Gus Dur yang semasa hidupnya sering membuat kontroversi. Negara seakan merasa memilikinya sehingga semua prosesi pemakaman dan pengurusan jenazah ditangani, masyarakat tak mau ketinggalan dengan rela berdiri berjajar di tengah terik matahari menununggu janazah Gus Dur menuju peristirahatan terakhir di makam keluarga Ponpes Tebuireng, Jombang, Jawa Timur.

Setelah jenazah dimakamkan pun, masih berbondang-bondong orang datang berziarah. Kami semua akan mengenangmu Gus. Tentu semampu kami akan meneruskan perjuanganmu. Selamat jalan Gus!!! (Arifafandi.blogdetik.com)


TAGS


-

Author

Follow Me