Surabayaku, Surabayamu, Surabaya Kita

6 Jun 2009

Ada transisi yang menarik tentang kota Surabaya. Kini, kota yang hari ini berumur 716 tahun ini memasuki tahapan baru. Kota ini tidak hanya menjadi milik beberapa orang atau golongan, tapi telah menjadi milik kita bersama. Semuanya merasa bangga. Semuanya merasa memilikinya. Dan semuanya merasa harus terus merawat kotanya agar tetap menjadi terus lebih baik dari sebelumnya.

Lho, apakah selama ini Surabaya belum menjadi milik kita bersama? Dari segi persepsi warga bisa demikian. Kota tidak dianggap menjadi milik bersama kalau semua elemen masyarakatnya tidak ikut serta dalam proses-proses pembangunan. Sukses yang dicapai tidak dianggap sebagai keberhasilan bersama, tapi keberhasilan salah satu elemen saja. Misalnya, keberhasilan pemerintah saja atau sector swasta saja atau masyarakat saja.

Kini, persepsi itu mulai hilang. Semua elemen masyarakat mulai menganggap apa yang dicapai adalah milik mereka bersama. Pemerintah juga telah mengubah paradigm. Dalam setiap proses pembangunan, mereka tidak lagi mau memonopoli. Tapi melibatkan banyak unsure dalam masyarakat. Aapakah itu para pengusaha, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), maupun kelompok-kelompok masyarakat. Hampir semua program yang berhasil karena mereka semua terlibat.

Ambil Saja contoh program kebersihan dan penghijauan. Program yang telah mengubah wajah Surabaya menjadi lebih bersih dan hijau ini dimulai dari gerakan masyarakat. Mula-mula lembaga kampus yang bekerjasama dengan kota di luar negeri membuat pilot project pembangunan lingkungan di Tenggilis dan Jambangan. Dari sinilah ditemukan model pemilahan sampah dengan keranjang Takakura dan Komposter. Dua kampong itu pun menjadi model percontohan berikutnya.

Lantas datang sebuah perusahaan dan media yang punya perhatian terhadap pembangunan lingkungan. Keduanya lantas mendidik para kader lingkungan dan menggelar kompetisi antar kampong se Surabaya. Model Tenggilis dan Jambangan di duplikasi ke seluruh kota. Setiap rumah tangga dilatih dan diprovokasi untuk memilahkan sampah rumah tangga. Yang basah jadi kompos, yang kering dikumpulkan untuk didaur ulang.

Setelah program ini berjalan, Pemerintah Kota Surabaya ikut memperkuatnya. Demam sampah Takakura dan Komposter ada di seluruh pelosok kampong di Surabaya. Mulanya hanya di selatan dan pusat kota. Lantas berkembang di Timur, Utara, dan Barat. Wilayah utara yang semula susah untuk diajak bersih-bersih lingkungan, akhirnya luluh juga. Banyak kampong ikut program pemilahan sampah dan penghijauan. Malah diantara mereka ada yang menang dalam kompetisi tingkat kota.

Ketika demam bersih-bersih kampong ini berjalan, pemerintah kota membangun taman kota di mana-mana. Momentumnya menjadi kena. Kalau dulu menanam tanaman berharga di jalanan bisa hilang, kini menjadi aman. Semua warga punya perhatian untuk menjaga taman secara bersama-sama. Bahkan, kalau sampai ada yang merusaknya, pasti akan dicaci maki oleh mereka. Bisa melalui radio atau media massa lainnya. Taman bukan lagi hanya milik pemerintah, tapi bergeser menjadi milik warga bersama.

Dalam pembangunan ekonomi demikian juga. Di bidang perdagangan, hanya di Surabaya yang para pengusaha mall bisa bekerjasama untuk menggelar acara bersama selama satu bulan. Hasilnya? Ketika Surabaya Shopping Festival 2009 berlangsung dua minggu, saya mendapat laporan kalau transaksinya sudah tembus setengah triliun rupiah. Itu berarti sudah melampau nilai transaksi selama sebulan pada tahun sebelumnya.

Untuk semua itu, pemerintah hanya menjadi fasilitator. Pembiayaan kegiatan semuanya dari mereka. Para pengusaha sudah merasa bahwa ekonomi kota ini harus didorong secara bersama-sama. Bukan hanya oleh pemerintah, tapi juga oleh mereka. Karenanya, ketika sudah dua tahun SSF digelar sendiri oleh mereka, kini sudah dirancang kegiatan perdagangan lanjutannya. Di waktu yang akan datang akan banyak festival yang digelar mereka, karena ternyata bisa ikut mendongkrak perekonomian kota.

Model membangun bersama-sama ini harus kita lanjutkan. Menjaga kota Surabaya bersama-sama, merawatnya, dan memajukannya. Kalau kemudian menjadi jauh lebih baik dari sebelumnya, ayo kita nikmati bersama-sama. Ketika Surabaya sudah menjadi milik kita bukan miliku atau milikmumaka kita semua akan bisa lebih menikmatinya. Kita telah punya modal social yang luar biasa untuk bisa demikian. Maka saatnya kita untuk terus merajut kebersamaan demi kemajuan.

Dirgahayu Kota Surabaya. Sungguh, kita semakin bangga dengan kemajuan yang ada.


TAGS


-

Author

Follow Me