Rekor Sprei dan Perkapita Muri

8 Apr 2009

Bukan kebetulan kalau dalam seminggu tiga kali bertemu bos PT Jamu Jago Jaya Suprana. Pria gendut yang dulu memproklamirkan diri sebagai tokoh kelirumologi ini sedang memberikan piagam rekor Muri (Museum Rekor Indonesia) di tiga tempat di Surabaya. Kebetulan, saya juga diundang di ketiga acara pemecahan rekor tersebut. Pertama pemecahan rekor untuk penyanyi seriosa lansia, cover bed raksasa, dan konser resital piano empat generasi. Untuk ketiga acara rekor Muri itu, Jaya Suprana yang hadir sendiri.

Peristiwa panen rekor dan prestasi di Surabaya itu terjadi minggu terakhir bulan Maret lalu. Yang menarik, ketiganya digelar oleh masyarakat dengan basis komunitas yang berbeda. Pertama oleh komunitas penggemar seriosa lansia, kedua seorang pengusaha sprei, dan ketiga seorang guru piano yang punya prestasi di tingkat dunia. Ketiganya adalah warga asli kota dan selama ini berkiprah di Surabaya. Bahwa mereka semua belum banyak dikenal, ini soal biasa. Yang jelas, masing-masing punya semangat berprestasi dan berbuat sesuatu untuk kota mereka.

Para pemecah rekor Muri itu punya motif yang berbeda-beda. Ada yang ikut memecahkan rekor Muri karena merasa bangga sampai berumur tua masih belajar menyanyi. Ada yang karena ingin menunjukkan sikap kebangsaannya. Juga ada ingin menunjukkan prestasi dunia dari arek-arek Surabaya. Rekor Konser Pianis Empat Generasi, misalnya, digelar untuk menunjukkan bahwa ada anak Surabaya yang penerima Anugerah Honorary Citizenship Kota Little Rock-Arkansas USA. Ivon Maria Pek Pien, pimpinan Wisma Musik Galaxy, selama ini sudah menjadi juri internasional untuk resital piano di Amerika.

Sedangkan para lansia Surabaya juga ingin unjuk prestasi. Meski umur sudah di atas 70-an tahun, mereka masih bisa bernyanyi dengan nyaring. Bukan nyanyian biasa. Tapi nyanyian yang membutuhkan olah vokal prima. Mereka para pemecah rekor itu bukan orang-orang biasa. Mereka terdiri dari komunitas yang beragam. Mulai dari salah seorang pemilik perusahaan besar di Surabaya, sampai dengan para pedagang biasa. Malam itu, mereka bergantian menyanyi dengan penuh gaya. Opa dan mama unjuk gaya menyanyi seriosa.

Prestasi lainnya dibuat Djaja Soetjianto, pengusaha sprei yang juga belum terlalu kaya. Dia tidak punya pabrik khusus. Hanya punya gudang untuk mengepul barang. Lantas bagaimana ia memproduksi barang? Nah, ini yang istimewa. Ia kerahkan para pengangguran yang nggak punya. Ia latih mereka menjahit dan disiapkan kredit lunak untuk mesinnya. Mereka dipasok kain untuk dikerjakan. Modelnya sudah dibikin duluan. Mereka semua mengerjakan pekerjaannya di rumah masing-masing.

Setelah jadi, Djaja memberikan kemasannya. Sprei itu lantas dipasarkan ke seluruh Indonesia. Sampai saat ini, model fabrikasi sprei yang memberdayakan warga miskin dan pengangguran itu berjalan lancar. Memang omsetnya belum besar benar. Tapi, kreativitasnya untuk permberdayaan masyarakat itulah yang perlu kita acungi jempol. Ketelatenannya melatih orang dan membina para orang miskin itu yang jarang dimiliki lainnya. Banyak yang pingin punya laba besar dalam bisnisnya. Mereka lantas membuat jalan pintas dan mengeksploitasi pekerjanya.

Komitmen Djaja pada pemberdayaan inilah yang ingin dia tuangkan dalam pemecahan rekor Muri. Ia pun membuat cover bed anyaman warna merah putih berukuran 15,5 x 7,1 meter. Saya ingin berbagai potensi bangsa ini teranyam rapi dalam bingkai bendera merah putih, kata pengusaha sederhana ini dengan rendah hati. Karena nilai kebangsaannya dan kegigihannya itulah, Jaya Suprana mengaku mau datang sendiri untuk menyerahkan piagam penghargaan di gudangnya Djaya di kawasan Surabaya utara.

Saya sendiri mau hadir di semua acara pemecahan rekor Muri itu sebagai bentuk apriasi. Sebab, sudah selayaknya semua prestasi warga ini mendapatkan penghargaan. Memang tidak harus berwujud materi. Perhatian saja rasanya sudah cukup. Apalagi, ada komitmen dari para penyelenggara pemerintahan ini untuk tidak merepotkan mereka. Biarkan mereka berusaha. Dorong mereka membuat kegiatan. Dukung mereka terus berkiprah di bidangnya. Toh, mereka berbuat semua itu tanpa tergantung, apalagi merepotkan pemerintah.

Gairah ini membuat Jaya Suprana berbunga-bunga. Ia bercerita bahwa dari segi perkapita, Surabaya menjadi kota pertama yang paling banyak memecahkan rekor Muri. Ibukota Jakarta kalah dengan kita. Dalam hitungan Jaya, satu banding tiga. Ini membuktikan bahwa gairah berprestasi sangat tinggi. Yang menarik lagi, di Surabaya, inisiatif pemecahan rekor Muri sebagian besar muncul dari masyarakat sendiri. Bukan karena dimobilisasi, apalagi disertai ancaman atau sanksi. Mereka bergerak sendiri untuk berpartisipasi dan memburu prestasi.

Sudah seharusnya, kita semua memberikan aprisiasi. (arifafandi.blogdetik.com)


TAGS


-

Author

Follow Me