Tak Lagi Gali-Tutup Lubang

15 Mar 2009

Ini bukan soal kebiasaan utang bagi orang yang hidup pas-pasan. Tapi soal kebiasaan gali lubang tutup lubang untuk proyek utilitas di perkotaan. Mulai tahun ini, Pemerintah Kota Surabaya memberikan contoh bagaimana membangun jalan dengan perencanaan lebih sempurna. Kalau sebelumnya tidak pernah memperhitungkan kebutuhan sarana utilitas lainnya, kini mulai dipikirkan. Membangun jalan tidak hanya jalan, tapi juga melibatkan sektor lainnya yang membutuhkan.

Ceritanya, tahun ini, pemerintah memang merencanakan membangun jalan tembus baru di Balas Klumprik, wilayah Surabaya barat. Panjangnya dua kilometer lebih. Jalan baru ini akan menghuubungkan Balas Klumprik dengan Wiyung. Pertumbuhan perumahan di wilayah Surabaya Barat menjadikan pembangunan jalan tembus baru ini sangat penting. Ini sama pentingnya dengan pembangunan jalan yang menghubungkan kawasan Pakuwon dengan Lidah Wetan yang dibangun dengan dana gotong royong para pengusaha.

Mestinya, jalan baru ini harus sudah mulai dikerjakan bulan kemarin. Namun, sampai sekarang belum direalisasikan. Lho, kenapa? Bukan karena Dinas PU dan Bina Marga lelet untuk melelang atau mengerjakan proyek tersebut. Tapi, karena harus menunggu hitungan teknis dari PDAM. Karena itu, pengerjaannya ditunda sementara. Menurut rencana, di bawah jalan akan ditanam pipa air PDAM. Beberapa kekuatan pipa itu menahan beban. Seberapa dalam pipa itu harus ditanam.

Jika jalan dan pipa PDAM dibangun secara bersamaan, maka bisa dibayangkan efesiennya. PDAM tidak harus bongkar pasang jalan untuk mamasang pipanya. Dinas PU dan Bina Marga juga tidak repot harus menyaksikan jalannya dibongkar lagi, padahal belum lama dikerjakan. Seringkali, pembongkaran jalan untuk memasang utilitas menyisakan masalah karena pekerja dan pengerjaannya berbeda. Selalu ada bekas, seperti luka borok di kulit Anda.

Kebiasaan gali lubang-tutup lubang jalan ini sering menjengkelkan. Tidak jarang mengganggu arus lalu lintas. Beberapa waktu lalu, ada sejumlah pekerja membongkar pembatas pedestrian way di Jalan Yos Sudarso. Padahal, pembangunan trotoar dengan keramik itu baru beberapa minggu selesainya. Pembongkaran itu dilakukan oleh kontraktor perusahaan telekomunikasi yang memasang kabel fiber optik bawah tanah. Tapi kenapa harus membongkar pembatas trotoar yang baru selesai dikerjakan? Ini yang saya belum tahu jawabannya.

Sudah sejak lama saya mengusulkan agar setiap pembangunan infrastuktur jalan, saluran dan totroar selalu dipikirkan untuk penempatan utilitas lainnya. Misalnya, saat membangun saluran, sekaligus diberi tempat untuk sarana utilitas lainnya. Ada kotak atau pipa khusus yang bisa dipakai untuk memasang kabel dan semacamnya. Juga perlu dipersiapkan tempat untuk pipa PDAM yang setiap saat menambah jaringan. Dengan demikian, kita tidak selalu menyaksikan bongkar pasang jalan untuk kepentingan pemasangan utilitas lainnya.

Kebiasaan bongkar pasang ini karena kita belum terbiasa dengan perencanaan holitistik fasilitas kota. Juga karena belum ada kebiasaan untuk kerja lintas sektor yang bisa menyelesaikan segala hal secara bersamaan. Sampai saat ini, Pemkot selalu kesulitan kalau berkoordinasi dengan PLN, Telkom, dan instansi yang sering memasang utilitas di jalan-jalan. Dulu, mulainya tahun anggaran antar instansi juga sering berbeda. Karena itu, pengerjaan proyeknya juga sering tidak bisa dibarengkan.

Tampaknya, sudah perlu ada skenario berbeda. Ke depan, setiap membangun sarana-prasarana, Pemkot akan menyiapkan tempat khusus untuk kebutuhan utilita mereka. Dengan demikian, tidak harus ada proyek tersendiri untuk menyiapkan utilitasnya. Tapi cukup menyewa sarana yang telah disiapkan pemerintah kota. Mereka bisa mengefesienkan biaya, warga kota tidak terganggu pengerjaan proyek yang tidak pernah ada habisnya. Dan yang penting, Pemkot juga akan dapat uang sewa.

Sekarang, Pemkot dan PDAM mulai memberi contoh bagaimana membangun dengan perencanaan secara bersama. Tinggal instansi lain yang perlu mencoba hal yang sama. Kita pasti bisa. (arifafandi.blogdetik.com)


TAGS


-

Author

Follow Me