Kiai Dahlan; Perginya Penjaga Alquran

9 Mar 2009

Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun. Kita kembali kehilangan seorang kiai besar yang menjadi kebanggaan warga Surabaya. Namanya KH Dahlan Basyuni. Dialah kiai yang hidupnya diabdikan untuk mendidik para penghafal Alquran. Ribuan hufadz, orang yang hafal Alquran, dilahirkan dari pondok pesantrennya yang tak terlalu besar, di dekat Masjid kuno Peneleh.


Kiai berusia 78 tahun ini meninggal kemarin pagi, sekitar pukul 4.30 WIB. Tidak ada sakit serius. Kecuali diare yang diderita beberapa hari terakhir. Dokter Muhammad yang ikut mengurus kiai di hari-hari terakhir mengakui bahwa tidak ada penyakit serius yang diderita Kiai Dahlan semasa hidupnya.


Saya mengenal Kiai Dahlan sebelum menjadi wakil walikota Surabaya. Pertemuan terakhir terjadi di rumah beliau pada bulan puasa lalu. Setelah itu, masih sempat beberapa kali bertemu di acara mantenan. Seperti halnya para kiai penghafal Alquran, tidak banyak pembicaraan dalam setiap pertemuan. Untuk menjaga hati, para penghafal umumnya memang bersifat pendiam.


Perhatian terhadap orang juga sangat luar biasa. Suatu ketika, saya datang ke Masjid Peneleh. Saat itu sedang melakukan safari Ramadan. Menegetahui bahwa saya dan rombongan akan datang, Kiai Dahlan menyempatkan diri untuk menunggui saya di barisan belakang. Baru setelah selesai, ia menyambut saya dan mengajaknya mampir ke rumahnya. Padahal, saat itu, badannya sedang kurang sehat.


Kesederhanaan selalu terpancar dalam diri Kiai Dahlan. Rumah tinggalnya tidak terlalu besar besar. Persis berada di depan masjid cagar budaya Peneleh. Di ruang tamu berukuran tiga kali empat meter, hanya tergelar karpet. Juga kasur kecil untuk duduk sang kiai ketika menerima tamu dan para santri. Tidak ada perabot maupun asesoris di rumahnya.


Penampilannya juga tidak menunjukkan ia seorang kiai besar. Kalau berpakaian juga sangat sederhana. Pakai sarung, kemeja, dan peci hitam. Tidak pernah pakai sorban sebagai mana pada umumnya. Salah satu yang menjadi kekhasan dalam penampilan hanyalah kacamata tebal. Entah minus berapa?. Yang jelas, ketebalan kacanya menunjukkan minusnya sudah banyak.


Sepanjang hidupnya digunakan untuk mendidik santri yang menghafal kitab suci. Kiai Dahlan mengurusi santri pria. Sedang istrinya Nyai Aminah mengurus dan mendidik santri perempuan. ”Kiai ini tidak pernah memikirkan dunia. Seluruh hidupnya digunakan untuk mendidik para penghafal Alquran. Beliau layak disebut sebagai penjaga Alquran,” tambah Dokter Muhammad.


Ada yang khas dari cara Kiai Dahlan mengembangkan pesantrennya. Ia tidak hanya menerima santri yang mendaftar. Tapi juga berburu santri. Seringkali, Kiai Dahlan keliling ke desa-desa dan kota untuk mendapatkan murid. Setelah menemukan, Kiai Dahlan sendiri yang meminta kepada orang tuanya untuk dididik menjadi penghafal Alquran.


Para santri itu tidak hanya dididik. Tapi juga ditata sampai bisa mandiri. Dia tidak hanya membikin seorang murid, tapi semacam kader. Biasanya, para santri yang telah dianggap selesai berguru kepadanya, lantas dicarikan jodoh sekaligus dinikahkan. Dengan demikian, Kiai Dahlan tidak hanya menjadi seorang guru, tapi sekaligus menjadi orang tua dari santri.


Para santri yang kini jumlahnya hasil didikannya dan sudah dimentaskan itu telah tersebar ke berbagai penjuru Indonesia. Bahkan, beberapa santrinya banyak yang berada di Makkah dan Madinah. Mereka umumnya menjadi hufadz kenamaan dan sangat menguasai Alquran. Juga sudah cukup banyak yang kemudian menjadi kiai yang memiliki pesantren.


Menurut cerita salah satu santri terdekatnya, tiga bulan lalu, Kiai Dahlan sudah merasa bahwa hidupnya sudah diambang batas. Usai menghadiri pernikahan salah satu santrinya di Masjid Peneleh, ia memanggil beberapa ustad. Saat itu, beliau sudah mengatakan bahwa hidupnya tidak akan lama lagi.


Karena itu perlu dipikirkan siapa yang akan menjadi penerusnya. Kebetulan, pasangan Kiai Dahlan ini tidak dikaruniai seorang putra pun. ”Saat itu ada teman yang memotret kiai. Di dada kanannya ada bayangan tulisan Allah,” katanya. Diceritakan, setelah acara pernikahan itulah Kiai seakan memberikan wasiat kepada orang dekatnya.


Yang pasti, kita telah kehilangan seorang kiai besar yang selama ini menjadi penjaga keorisinilan Alquran. Selamat jalan, Kiai. Kau memang tidak punya putra biologis. Tapi ribuan santri penghafal Alquran telah menjadi anak spiritual yang akan meneruskan perjuangan dan cita-cita Kiai Dahlan. (*)


TAGS


-

Author

Follow Me