Filipino Rasa Surabaya

16 Feb 2009

Kalau ada warga negara Filipina yang sangat bangga dengan kota Surabaya, itu adalah Vernon Benecdicto Prieto. Sejak mengenal kota ini, ia menjadi orang yang paling getol memasarkan ibukota Jawa Timur ini ke berbagai negara di Asia dengan berbagai cara. Bahkan, untuk kegiatan tersebut, ia bisa mengeluarkan koceknya sendiri karena kebanggaannya.

Mengapa kok bisa demikian? Saya sendiri tidak tahu pasti. Namun, dari setiap email yang dikirim ke STPB maupun saya, Vernon selalu menggambarkan kegiatannya di berbagai event dan tempat. Tak lupa, ia selalu menyertakan foto-fotonya. Keaktifannya memasarkan Surabaya di berbagai negara itu bisa jadi melebihi warga kota ini sendiri yang tinggal di luar negeri.

Saking getolnya memasarkan kota ini, Vernon sampai dijuluki oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Manila sebagai Duta Besarnya Surabaya. Pria yang bangga memakai batik kalau bepergian ini memang menjadi perwakilan Surabaya Tourisme and Promotion Board (STPB) untuk Filipina. Namun, ia juga sering ikut mamasarkan Surabaya saat mengikuti pameran di Hanoi, Tiongkok maupun Singapuran. Ia diangkat sejak berdirinya STPB tahun 2006 yang lalu.

Saya juga tidak tahu bagaimana STPB menemukan dia. Yang jelas, Vernon yang mengganti nama tengahnya menjadi Bambang tersebut betul-betul menjiwai kota ini. Sampai-sampai ia selalu mengenakan pakain Cak jika mengikuti pameran-pameran pariwisata di berbagai tempat. Tahun lalu, ia membawa rombongan pemilik biro travel dari Filipina ke kota kita.

Pemilik Elcamino Travel yang berpusat di Manila itu menyukai sop buntut. Kalau pas berada di sini, ia selalu menyempatkan jalan ke pelosok-pelosok kota. Ditelusurinya jalan-jalan dan menggali beberapa tempat yang kemungkinan menarik bagi wisatawan luar negeri. Jika menelusuri kota, Vernon tak mau ditemani. Selain tidak mau merepotkan, katanya, hal itu dilakukan agar obyektifitasnya tak teracuni.

Yang menarik, ia selalu membawa souvenir khusus untuk saya. Eh…jangan curiga dulu. Nilainya tidak seberapa. Jadi, tidak harus lapor ke KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi). Biasanya berupa cindera mata yang unik dari negara yang baru saja dikunjunginya. Misalnya,ia pernah membawakan saya kaligrafi Arab terbuat dari kain kecil yang sangat indah dari Turki. Ia melakukan itu karena tahu kalau saya adalah seorang muslim atau santri.

Suatu ketika saya sempat bertanya. Mengapa ia begitu jatuh hati dengan Surabaya? Saya tidak bisa menjelaskan. Namun, saya merasakan Surabaya ini the best city di Indonesia, katanya terus terang. Sebagai perwakilan STPB, Vernon memang tidak mendapat bayaran. Juga tidak mendapatkan dana bantuan jika ikut pameran di negerinya maupun di negeri orang. Namun, ia selalu menjadikan Surabaya sebagai bahan jualan untuk para wisatawan.

Karena kecintaan dan kegetolannya menjual Surabaya di luar negeri, Pemkot Surabaya telah memberikan penghargaan, tahun lalu. Penghargaan tersebut dianugerahkan pada saat Upacara Peringatan Hari Jadi Kota Surabaya di Balai Kota. Paska menerima penghargaan tersebut, Vernon makin bersemangat memasarkan kota ini. Sekarang, sebetulnya ia berharap ada bussines trip ke negerinya. Tapi, keinginan tersebut belum bisa terealisasikan. Toh demikian, penggemar sop buntut ini tetap tidak putus asa.

Banyak orang luar yang sudah jatuh cinta pada kota ini. Saat ini saja, STPB sudah memiliki lima perwakilan di luar negeri. Selain di Filipina, ada di Brunei, Tiongkok, Korea, dan Eropa. Di dalam negeri, STPB punya perwakilan di Jakarta, Semarang, Jogja, Balikpapan, dan Makassar. Sejumlah perwakilan itulah yang selama ini ikut aktif menarik wisatawan datang ke Surabaya tanpa bayaran.

Jadi, makin banyak orang luar yang jatuh hati ke kota kita. Bahkan, diantara mereka tidak hanya suka. Melainkan juga ikut bangga. Nah, kalau orang luar Surabaya saja bangga, warga di sini harus melebihinya. Saatnya kita bikin gerakan bangga Surabaya.


TAGS


-

Author

Follow Me