Des 28 2008
Merasakan Jadi ”Sandera” Teroris
Aman selalu menjadi alasan utama sebuah kota dan negara menjadi tujuan utama investasi. Jika rasa aman tidak terjamin, maka jangan harap ada orang menanamkan modalnya untuk usaha. Jika tidak ada yang menanam modal, maka tidak akan ada usaha. Jika tidak ada usaha, maka tidak tercipta lapangan kerja. Kalau nggak ada lapangan kerja, maka tidak akan ada daya beli. Jika tidak ada orang beli, maka produk tidak akan laku. Kalau nggak laku, maka tidak akan ada perputaran uang. Demikian seterusnya.
Karena itu, ketika suatu hari seluruh aparat keamanan selama dua jam ‘’mengganggu’’ hotel dan jalan-jalan di Surabaya, tidak ada satu pun yang protes. Ini terjadi ketika TNI dan Polri secara serentak berlatih mengatasi serangan teror. Latihan itu dilangsungkan di beberapa hotel berbintang dan tempat publik yang vital seperti bandara. Latihan itu mengerahkan berbagai kekuatan di TNI dan Polri. Mulai bagaimana strategi menyerbu teroris, menjinakkan bom, sampai melumpuhkan kekuatan pengganggu keamanan.
Secara tidak sengaja, saya menjadi bagian dari latihan anti teror itu. Saat itu, saya pas berada di hotel yang menjadi ajang latihan itu. Saya berada di sana untuk menemui kawan lama yang datang dari Australia. Kebetulan, dalam simulasinya, teroris menyendera seorang pejabat di hotel berbintang tersebut. Makanya, ketika salah satu kawan yang kini menjadi pejabat Kodam V/Brawijaya melihat saya di tempat simulasi, ia memerintahkan pemeran teroris untuk menjadikan saya ‘’sandera sungguhan.’’ Asyik. Sebab, bisa melihat kesiapan mereka dengan lebih detail.
Apa kesan setelah melihat latihan mereka? Tampaknya kita tidak perlu khawatir dengan kesiapan aparat keamanan kita. Mereka sudah tampak profesional. Punya kemampuan mengenali sejumlah senjata dan karakter penyandera. Bahkan yang detil sekalipun. Misalnya, jika ada pintu gerbang dengan ketebalan tertentu dan jenis kayu yang khusus, mereka sudah bisa memperkirakan menjebol dengan cara apa. Kalau harus menggunakan alat peledak, jenisnya pun sudah bisa diperkirakan. Ketepatan serbuan juga bisa diprediksikan.
Kesiapan itulah yang sangat diharapkan masyarakat. Mereka tidak ingin aparat keamanan kita terseok-seok dalam menghadapi setiap ancaman keamanan. Masyarakat selalu bermimpi aparat kita digdaya dalam keadaan apa pun. Memang, latihan dengan kenyataan ancaman yang sesungguhnya pasti berbeda. Kalau latihan, skenarionya dibikin pelaksana latihan. Kalau teror sungguhan pasti lebih sulit dihadapi. Namun, ketrampilan yang ditunjukkan saat latihan bisa menjadi indikator tentang kemampuan mereka mengatasi segala ancaman.
Keamanan memang menjadi andalan jualan kota dan negara. Kalau Anda bertanya apa syarat utama uang bisa datang? Pengusaha akan menjawab, keamanan, keamanan, dan keamanan. Baru setelah itu layanan. Nah, penanggungjawab keamanan ini adalah Polri dan TNI. Karena itu, setiap langkah Polri dan TNI untuk menciptakan keamanan perlu mendapat dukungan penuh dari kita semua. Apalagi keamanan masyarakat sehari-hari. Karena itu, banyak warga masyarakat mengacungkan jempol ketika Polri mempunyai program pemberantasan preman jalanan.
Dulu, sebelum otonomi daerah diterapkan, kepala daerah adalah penguasa tunggal di daerah. Karena itu, ia menjadi koordinator di daerah untuk segala hal. Ia bisa mengkoordinasikan para pejabat dari instansi samping dengan lebih efeketif. Namun, setelah reformasi, kepala daerah bukan lagi sebagai penguasa tunggal daerah. Kepala daerah juga tidak bisa memberikan anggaran ke instansi samping seperti Polri. Dengan demikian, tidak ada subordinasi antara keduanya. Hubungannya hanya bersifat koordinatif. Karena itu, kepala daerah tidak bisa mengontrol atau mendesak polisi untuk meningkatkan pola-pola pengamanan.
Dalam pola hubungan kerja yang demikian, segala inisiatif Polri dan TNI untuk meningkatkan keamanan suatu wilayah selalu menjadi berkah bagi kepala daerah. Dengan demikian, maka keamanan daearah tersebut akan tercipta. Jika hal itu terjaga, tentu situasi masyarakat akan menjadi aman. Rasa aman yang berketerusan akan membuat usaha berkembang besar. Hasil akhirnya peluang untuk menciptakan kesejahteraan masyarakat juga makin lebar.
Kita tetap menunggu sejumlah inisiatif aparat keamanan untuk menciptakaan stabilitas kota. Dan untuk itu, saya yakin tak satu pun yang tidak menyetujuinya. Tetap jayalah TNI dan polisi kita.
10 responses so far

selain kesiapan TNI dan polisi dalam menghadapi ancaman kedepan, akan lebih baik, bila bapak mengaktifkan kembali siskamling di kampung2 surabaya.
dengan peran aktif masyarakat dalam menciptakan rasa aman, kemungkinan akan mempersempit ruang bagi para teroris
saya sangat setuju dengan Mas cakekoapriantono, karena dengan siskamling, rakyat bisa merasa lebih tentram, aman, karena mereka terjun langsung mengamankan daerahnya…
nah kalo TNI, Polisi, & rakyat sudah bergabung kan lebih ideal lagi…menjadi kekuatan yang sangat solid yang bisa mengurangi ancaman terhadap keamanan. tapi yang perlu diperhatikan juga adalah, efek domino kenapa terjadinya ancaman2 seperti itu, seperti kesejahteraan rakyat. kalo rakyatnya sejahtera, maka lambat laun, ancaman2 tsb menghilang dg sendirinya…
salam,
JuraganTAHU
http://bengkeldata.blogspot.com
Kita harus lebih hati-hati dan jeli dalam segala hal…
Dukung kota Surabaya yang aman dan tentram
mudah2an negeri kita aman
eniwe, selamat tahun baru
semoga tahun ini lebih menyenangkan
yap.. mari dukung terus perkembangan TNI/POLRI kita..
selamat tahun baru pak wawalikot
Seseyogyanya sudah waktunya untuk memelihara rasa aman baik dalam keluarga, lingkungan masarakat Negara dan Bangsa………..
Sudah saatnya dipikirkan bukan memelihara sesaat (maaf bukan simulasi/latihan tidak baik tapi perlu jawaban apa yang dilakukan kemudian setelah itu) yaitu perlunya segera disusun PROTAP-PROTAP yaitu Prosedur Tetap didalam menanggulangi dan menghadapi ancaman keamanan. Ini penting untuk segera disusun dan disosialisasikan bagaimana apabila menghandapi segala ancaman keamanan termasuk bahaya kebakaran. Termasuk preventif dan apa yang harus dilakukan apabila terjadi ancaman. Protap HARUS selalu dievaluasi dan disesuaikan dengan kondisi masing-2 dan mengikuti perkembangan baik tehnologi maupun bentuk-2 perkembangan kejahatan yang ada. Contoh kongkrit dan sederhana didesa saya waktu kecil ada PROTAP : apabila ada pencuri maka masing-2 rumah membunyikan kentongan yang sudah disiapkan dan yang harus ada disetiap rumah dengan sandi yang sudah disepakati bersama penduduk desa itu..
Lalu untuk penyusunan PROTAP ini Tugas Siapa..?? Inisiatornya kembali kepada APARAT kita dan pesertanya adalah Semua unsur masarakat…….. BRAVO TNI POLRI
Setelah beberapa saat merasa aman dengan ketiadaan preman terutama dijalanan, sekarang kita mulai was was lagi karena satu demi satu preman itu mulai kembali. Indikator yang paling jelas terlihat adalah di hampir semua persimpangan, sekarang kembali dikuasai pak Ogah.
Kalau suatu waktu anda lewat dipertigaan Monumen Panca Sila sakti, lubang Buaya maka mungkin anda akan melihat seorang laki2 tegap dengan tatoo ditangan yang kembali memungut uang dari setiap pengendara yang mau berbelok, dan dia hanya menghilang selama operasi preman dilakukan dan saat ini kembali ke habitatnya.
So…. apa hasil kongkret dari operasi preman tersebut ?, dan rasa aman itu kelihatan semakin jauh…karena sepertinya preman itu tidak ditangkap untuk ditahan tapi untuk disembuyikan smentara waktu.
cak arief hormat dengan skala prioritas aman di wilayah sampean
saya urun rembux : rasa aman itu tidak hanya adanya teror saja tapi juga aman ngambil BLT/Askeskin dan beasiswa anak tak mampu dari rampokan orang yang tidak berhak mendapatkan dan
angakat topi dengan tulisan sampean sebelum jadi wawali begitu
tajam dan banyak ide2 yang cemerlang, saya kangen cak !
Saya setuju dengan cak cakekoapriantono dan cak JuraganTahu…Siskamling perlu diaktifkan kembali, Mengingat sekarang perumahan-perumahan modern banyak yang sifatnya mengandalkan tenaga satpam hingga membuat kurangnya interaksi antar warga. Saya yakin warga Surabaya yang dulu dikenal sangat “guyub” bisa kembali lagi. Mempererat silaturahmi hingga mengurangi “cluster-cluster” kosong yang bisa disusupi kejahatan. Yo’opo iso diactionkan kah cak Arif ?